Pada
zaman jahiliah sering terjadi peperangan antar suku. Bahkan, peperangan
ini terkadang berlangsung hingga beberapa generasi setelahnya.Untuk
memuliakan dan menghormati Ka’bah, muncul larangan berperang ataupun
melancarkan serangan pada beberapa bulan dalam setahun, yaitu bulan
Zulqaidah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab. Namun, bangsa Arab saat itu
memperbolehkan peperangan dilaksanakan pada bulan Muharram. Lalu sebagai
gantinya, mereka menghentikan perang pada bulan Safar. Tindakan ini
dinamakan An Nasi (pengunduran).
Kota Mekah merupakan tempat yang dipandang suci oleh seluruh
bangsa Arab. Kota Mekah sejak awal didirikan telah mengenal sistem
pemerintahan. Beberapa suku pernah memegang kekuasaan atas kota Mekah,
yaitu suku Amaliqah (sebelum Nabi Ismail dilahirkan), suku Jurhum, dan
suku Khuza’ah (440 M). Suku Khuza’ah yang mengambil kekuasaan Mekah dari
suku Jurhum mendirikan Darun Nadwah, yaitu tempat untuk bermusyawarah
bagi penduduk Mekah di bawah pengawasan Qushai.
Bangsa Arab pada umumnya berwatak berani, keras, dan bebas.
Mereka telah lama mengenal agama. Nenek moyang mereka pada mulanya
memeluk agama Nabi Ibrahim. Akan tetapi, akhirnya ajaran itu pudar.
Untuk menampilkan keberadaan Tuhan mereka membuat patung berhala dari
batu, yang menurut perasaan mereka patung itu dapat dijadikan sarana
untuk berhubungan dengan Tuhan. Kebudayaan mereka yang paling menonjol
adalah bidang
sastra bahasa Arab, khususnya syair Arab. Perekonomian penduduk negeri
Mekah umumnya baik karena mereka menguasai jalur darat di seluruh
Jazirah Arab.
A. Keberagaman Masyarakat Mekah sebelum Islam Datang
Sebelum
Islam datang, bangsa Arab telah menganut berbagai macam agama, adat
istiadat, akhlak dan peraturan-peraturan hidup. Ketika agama Islam
datang, agama baru ini pun membawa pembaruan di bidang akhlak, hukum,
dan peraturan-peraturan tentang hidup. Dengan demikian, bertemulah agama
Islam dengan agama-agama jahiliah atau peraturan-peraturan Islam dengan
peraturan-peraturan bangsa Arab sebelum Islam. Kemudian, kedua paham
dan kepercayaan itu saling berbenturan dan bertarung dalam waktu yang
lama.
Faktor
alam merupakan satu hal yang dapat mempengaruhi kehidupan beragama pada
suatu bangsa. Hal itu dapat dibuktikan oleh penyelidik-penyelidik
ilmiah yang menunjukkan bahwa Jazirah Arab dahulunya subur dan rnakmur.
Karena faktor alam itu pula boleh jadi rasa keagamaan telah timbul pada
bangsa Arab semenjak lama. Semangat keagamaan yang amat kuat pada bangsa
Arab itulah yang menjadi dorongan mereka untuk melawan dan memerangi
agama Islam di saat Islam datang. Mereka memerangi agama Islam karena
mereka amat kuat berpegang dengan agama mereka yang lama yaitu
kepercayaan yang telah mendarah daging pada jiwa mereka. Andaikata
mereka acuh tak acuh dengan agama, tentu mereka membiarkan agama Islam
berkembang, tetapi kenyataannya tidak demikian. Agama Islam mereka
perangi mati-matian sampai mereka kalah.
Sampai
saat ini pun bangsa Arab, baik dia seorang ulama atau tidak, terhadap
agamanya mereka sangat bersemangat. Agama itu disiarkan serta dibela
dengan sekuat tenaganya. Semangat beragama mereka umumnya bersifat
kulitnya saja. Adapun ibadah dan praktik-praktik keagamaan jeering
ditinggalkan oleh Arab Badui. Watak mereka yang amat mencintai hidup
bebas dari keterikatan menjadi sebab mereka Kingin bebas dari aturan
agama. Mereka sudah lama merasa bosan dan kesal terhadap agamanya karena
dianggap sebagai pengikat kemerdekaannya sehingga selalu menyelewengkan
agama mereka sendiri. Ada di antara mereka yang menyembah pohon-pohon
kayu. Ada yang menyembah bintang-bintang, batu-batuan,
binatang-binatang, bahkan menyembah raja-raja. Cara ini mereka lakukan
karena mereka merasa sukar mempercayai Tuhan yang abstrak, sehingga
akhirnya mereka menjadikan sesuatu benda yang dianggapnya sebagai Tuhan
bayangan.
Mengenai
kepercayaan keaga-maan, bangsa Arab merupakan salah satu dari
bangsa-bangsa yang telah mendapat petunjuk. Mereka dahulu telah
mengikuti agama Nabi Ibrahim. Karena terputus dengan nabi sebagai juru
penerang, meraka lantas kembali lagi menyembah berhala. Berhala-berhala
mereka terbuat dari batu dan ditegakkan di Kakbah. Dengan demikian agama
Nabi Ibrahim bercampur aduk dengan kepercayaan keberhalaan. Kemudian
keyakinan terhadap Nabi Ibrahim itu telah benar-benar kalah dengan
kepercayaan keberhalaan.
Ibnu
Kalbi menyatakan bahwa yang menye-babkan bangsa Arab menyembah batu
atau berhala adalah karena siapa saja yang meninggalkan kota Mekah
selalu membawa sebuah batu. Diambilnya dari batu-batu yang ada di tanah
haram Kakbah. Jika telah berbuat demikian, mereka telah merasa dirinya
terhormat dan cinta terhadap kota Mekah. Selanjutnya, di mana-mana
mereka berhenti atau menetap, diletakkannya batu itu, dan mereka tawaf
(mengelilingi) batu itu, seolah-olah mereka telah mengelilingi Kakbah.
Sesungguhnya mereka masih tetap memuliakan Kakbah dan kota Mekah, serta
masih mengerjakan haji dan umrah, tetapi mereka tetap saja menyembah apa
yang mereka sukai. Berhala-berhala yang ada di negeri mereka dahulunya
adalah batu yang dibawa dari Kakbah ; (Mekah), yang kemudian mereka
muliakan. Mereka juga mendirikan rumah-rumah untuk smenempatkan batu
berhalanya, sementara itu Kakbah masih tetap mempunyai kedudukan lyang
tinggi dan mulia. Di antara berhala-berhala itu ada yang mereka
pindahkan ke Kakbah, yang akhirnya Kakbah dipenuhi dengan
berhala-berhala. Mereka tidak lupa akan kedudukan I Kakbah yang mulia
sehingga mereka tidak mau meletakkan batu-batu berhala itu di tempat
yang lain, kecuali dekat dengan Kakbah. Mereka juga tidak mau naik haji,
kecuali hanya ke Mekah.
Nama-nama
berhala yang mereka sembah antara lain Hubal yakni berhala yang terbuat
dari batu akik berwarna merah dan berbentuk manusia. Hubal, dewa mereka
yang terbesar I diletakkan di Kakbah, kemudian Al Lata, berhala yang
paling tua, berhala Al Uzza, serta Manah. Mereka mengakui berhala
tersebut sebagai Tuhan mereka dan memujanya karena dianggapnya hebat.
Mereka menyembah berhala-berhala itu sebagai perantara kepada Tuhan.
Jadi pad hakikatnya, bukanlah berhala-berhala itu yang mereka sembah,
tetapi sesuatu yang hebat di balik berhala-berhala itu. Untuk
mendekatkan diri kepada dewa atau Tuhan-Tuhan itu, merek rela berkorban
dengan menyajikan binatang ternak. Bahkan pernah pada suatu ketika
mereka mempersembahkan manusia sebagai korban kepada dewa-dewa dan Tuhan
mereka. Kepadal berhala-berhala itu, mereka mengadukan nasibnya,
persoalan, atau problem hidupnya serta meminta pendapat atau memohon
restunya jika akan mengerjakan sesuatu yang penting.
B. Kebudayaan Masyarakat Mekah sebelum Datang Islam
Sebagian
besar daerah Arab adalah daerah gersang dan tandus, kecuali daerah
Yaman yang terkenal subur. Wajar saja bila dunia tidak tertarik, negara
yang akan bersahabat pun tidak merasa akan mendapat keuntungan dan pihak
penjajah juga tidak punya kepentingan. Sebagai imbasnya, mereka yang
hidup di daerah itu menjalani hidup dengan cara pindah dari suatu tempat
ke tempat lain. Mereka tidak betah tinggal menetap di suatu tempat.
Yang mereka kenal hanyalah hidup mengembara selalu, berpindah-pindah
mencari padang rumput dan menuruti keinginan hatinya. Mereka tidak
mengenal hidup cara lain selain pengembaraan itu. Seperti juga di
tempat-tempat lain, di sini pun Tihama, Hijaz, Najd, dan sepanjang
dataran luas yang meliputi negeri-negeri Arab] dasar hidup pengembaraan
itu ialah kabilah. Kabilah-kabilah yang selalu pindah dan pengembara itu
tidak mengenal suatu peraturan atau tata-cara seperti yang kita kenal.
Mereka hanya mengenal kebebasan pribadi, kebebasan keluarga, dan
kebebasan kabilah yang penuh.
Keadaan
itu menjadikan loyalitas mereka terhadap kabilah di atas segalanya.
Seperti halnya sebagian penduduk di pelosok desa di Indonesia yang lebih
menjunjung tinggi harga diri, keberanian, tekun, kasar, minim
pendidikan dan wawasan, sulit diatur, menjamu tamu dan tolong-menolong
dibanding penduduk kota, orang Arab juga begitu sehingga wajar saja bila
ikatan sosial dengan kabilah lain dan kebudayaan mereka lebih rendah.
Ciri-ciri ini merupakan fenomena universal yang berlaku di setiap tempat
dan waktu. Bila sesama kabilah mereka loyal karena masih kerabat
sendiri, maka berbeda dengan antar kabilah. Interaksi antar kabilah
tidak menganut konsep kesetaraan; yang kuat di atas dan yang lemah di
bawah. Ini tercermin, misalnya, dari tatanan rumah di Mekah kala itu.
Rumah-rumah Quraysh sebagai suku penguasa dan terhormat paling dekat
dengan Ka’bah lalu di belakang mereka menyusul pula rumah-rumah kabilah
yang agak kurang penting kedudukannya dan diikuti oleh yang lebih rendah
lagi, sampai kepada tempat-tempat tinggal kaum budak dan sebangsa kaum
gelandangan. Semua itu bukan berarti mereka tidak mempunyai kebudayaan
sama-sekali.
Sebagai
lalu lintas perdagangan penting terutama Mekah yang merupakan pusat
perdagangan di Jazirah Arab, baik karena meluasnya pengaruh
perdagangannya ke Persia dan Bizantium di sebelah selatan dan Yaman di
sebelah utara atau karena pasar-pasar perdagangannya yang merupakan yang
terpenting di Jazirah Arab karena begitu banyaknya, yaitu Ukāẓ, Majnah,
dan Dzū al-Majāz yang menjadikannya kaya dan tempat bertemunya
aliran-aliran kebudayaan. Mekah merupakan pusat peradaban kecil. Bahkan
masa Jahiliah bukan masa kebodohan dan kemunduran seperti ilustrasi para
sejarahwan, tetapi ia merupakan masa-masa peradaban tinggi. Kebudayaan
sebelah utara sudah ada sejak seribu tahun sebelum masehi. Bila
peradaban di suatu tempat melemah, maka ia kuat di tempat yang lain.
Ma’īn yang mempunyai hubungan dengan Wādī al-Rāfidīn dan Syam, Saba`
(955-115 SM), Anbāṭ (400-105 SM) yang mempunyai hubungan erat dengan
kebudayaan Helenisme, Tadmur yang mempunyai hubungan dengan kebudayaan
Persia dan Bizantium, Ḥimyar, al-Munādharah sekutu Persia, Ghassan
sekutu Rumawi, dan penduduk Mekah yang berhubungan dengan bermacam-macam
penjuru.
Fakta
di atas menunjukkan bahwa pengertian Jahiliah yang tersebar luas di
antara kita perlu diluruskan agar tidak terulang kembali salah
pengertian. Pengertian yang tepat untuk masa Jahiliah bukanlah masa
kebodohan dan kemunduran, tetapi masa yang tidak mengenal agama tauhid
yang menyebabkan minimnya moralitas. Pencapaian mereka membuktikan
luasnya interaksi dan wawasan mereka kala itu, seperti bendungan Ma’rib
yang dibangun oleh kerajaan Saba`, bangunan-bangunan megah kerajaan
Ḥimyar, ilmu politik dan ekonomi yang terwujud dalam eksistensi kerajaan
dan perdagangan, dan syi’ir-syi’ir Arab yang menggugah. Sebagian syi’ir
terbaik mereka dipajang di Ka’bah. Memang persoalan apakah orang Arab
bisa menulis atau membaca masih diperdebatkan. Tetapi fakta tersebut
menunjukkan adanya orang yang bisa mambaca dan menulis, meski tidak
semuanya. Mereka mengadu ketangkasan dalam berpuisi, bahkan hingga Islam
datang tradisi ini tetap ada. Bahkan al-Quran diturunkan untuk
menantang mereka membuat seindah mungkin kalimat Arab yang menunjukkan
bahwa kelebihan mereka dalam bidang sastra bukan main-main, karena tidak
mungkin suautu mukjizat ada kecuali untuk membungkam hal-hal yang
dianggap luar biasa.
Negeri
Yaman adalah tempat tumbuh kebudayaan yang amat penting yang pernah
berkembang di Jazirah Arab sebelum Islam datang. Bangsa Arab termasuk
bangsa yang memilikij rasa seni yang tinggi. Salah satu buktinya ialah
bahwa seni bahasa Arab (syair) merupakan suatul seni yang paling indah
yang amat dihargai dan dimuliakan oleh bangsa tersebut. Mereka amat
gemar berkumpul mengelilingi penyair-penyair untuk mendengarkan
syair-syairnya. Ada beberapa pasar tempat penyair-penyair berkumpul
yaitu pasar Ukaz, Majinnah, dan Zul Majaz. Di pasar-pasar itulah
penyair-penyair memperdengarkan syairnya yang sudah disiapkan untuk itu.
Seorang
penyair mempunyai kedudukan yang amat tinggi dalam masyarakat Arab.
Bila pada suatu suku/kabilah muncul seorang penyair, maka berdatanganlah
utusan dari kabilahJ kabilah lain untuk mengucapkan selamat kepada
kabilah itu. Untuk itu, kabilah tersebul mengadakan
perhelatan-perhelatan dan jamuan besar-besaran dengan menyembelih
binatar ternak. Untuk upacara ini, wanita-wanita cantik dari kabilah
tersebut keluar untuk menari, menyanyi, dan bermain menghibur para tamu.
Upacara yang diadakan adalah untuk menghormati sang penyair. Dengan
demikian penyair dianggap mampu menegakkan martabat suku atau
kabilahnya. Salah satu dari pengaruh syair pada bangsa Arab ialah bahwa
syair itu dapat meninggikan derajat orang yang tadinya hina, atau
sebaliknya, dapat menghinakan orang yang tadinya mulia. Bilamana penyair
memuji orang yang tadinya hina, maka dengan mendadak orang hina itu
menjadi mulia, demikian pula sebaliknya. Jika penyair mencelal seseorang
yang tadinya mulia, orang tersebut mendadak menjadi orang yang hina.
Sebagai contoh, ada seorang yang bernama Abdul Uzza ibnu Amir. Dia
adalah seorang yang mulanya hidupnya melarat. Putri-putrinya banyak,
akan tetapi tidak ada pemuda-pemuda yang mau memperistrikan mereka.
Kemudian dipuji-puji oleh Al Asya seorang penyair ulung. Syair yangl
berisi pujian itu tersiar ke mana-mana. Dengari demikian, menjadi
masyhurlah Abdul Uzza itu, dan akhirnya kehidupannya menjadi baik, dan
berebutlah pemuda-pemuda meminang putri-putrinya.
Mereka
mengadakan perlombaan bersyair dan syair-syair yang terbagus biasanya
mereka gantungkan di dinding Kakbah tidak jauh dari patung-patung pujaan
mereka agar dinikmati banyak orang, Jika syairnya itu telah
digantungkan di dinding Kakbah, sudah pasti suku/kabilah tersebut naik
pula martabat dan kemuliaannya. Dengan demikian, potret seluruh
kebudayaan bangsa Arab telah tertuang dan tergambar di dalam karya
syair-syair mereka.
C. Perekonomian Masyarakat Mekah sebelum Datang Islam
Bangsa
Arab yang tinggal di bagian tepi Jazirah Arab tidak suka hidup
mengembara, tetapi menetap karena di wilayah ini terdapat kota-kota dan
kerajaan. Dikarenakan tanahnya yang tandus dan jarang turun hujan, maka
perekonomian mereka umumnya bergerak di bidang perniagaan. Perniagaan
mereka meliputi perniagaan di laut dan di darat. Perniagaan di laut
yaitu ke India, Tiongkok, dan Sumatra. Perniagaan di darat ialah di
dalam Jazirah Arab sendiri. Tetapi setelah Yaman dijajah oleh bangsa
Habsyi dan kemudian oleh bangsa Persia, maka kaum-kaum penjajah itu
dapat menguasai perniagaan di laut. Akan tetapi, perniagaan di dalam
Jazirah Arab berpindah ke tangan penduduk Mekah karena kaum penjajah
tidak dapat menguasai perekonomian dalam Jazirah Arab. Adapun faktor
yang mendorong Mekah dapat memegang fperanan dalam perniagaan ialah
karena orang-orang Yaman telah berpindah ke Mekah, sedang "mereka
mempunyai pengalaman yang luas dalam bidang perniagaan. Oleh karena itu,
kota Mekah dari hari ke hari bertambah masyhur sesudah Kakbah
didirikan. Jemaah-jemaah haji juga berdatangan dari segenap penjuru
Jazirah Arab tiap tahun. Keadaan tersebut menyebabkan Quraisy sangat
dihormati oleh bangsa Arab, apalagi penghargaan dan pelayanan Quraisy
terhadap jemaah haji amat baik. Faktor lain ialah karena letak kota
Mekah yang posisinya di tengah-tengah tanah Arab, yaitu di antara
wilayah utara dan selatan. Buminya yang kering Man tandus, juga
pendorong dan memaksa penduduknya suka merantau untuk berniaga sebagai
usaha yang utama dan sumber yang terpenting bagi kehidupan mereka.
Dari
San'a dan kota-kota pelabuhan di Oman dan Yaman, kafilah-kafilah bangsa
Arab membawa minyak wangi, kemenyan, kain sutra, barang logam, kulit
senjata, dan rempah-rempah. Barang-barang perniagaan ini ada yang
dihasilkan di Yaman dan ada juga dari kota pelabuhan India dan Tiongkok.
Oleh kafilah-kafilah itu, barang-barang tersebut dibawa ke pasar-pasar
di Syam. Minyak wangi amat diperlukan. Dengan demikian, perniagaan suku
Quraisy menjadi giat serta mendapat kemasyhuran dan kemajuan yang besar
di dalam dan di siluar Jazirah Arab.
Hal
tersebut berbeda dengan bangsa Arab yang tinggal di Jazirah Arab bagian
tengah. Jazirah ini terdiri dari tanah pegunungan yang sangat tandus
karena wilayahnya yang sangat panas dan gersang. Wilayah ini tidak
pernah dimasuki oleh bangsa lain karena penduduknya juga sedikit sekali,
yaitu terdiri dari kaum pengembara yang selalu berpindah-pindah tempat,
menuruti turunnya hujan, dan mencari padang-padang yang ditumbuhi
rumput tempat menggembalakan binatang ternak. Penduduk bagian tengah
Jazirah Arab ini disebut kaum Badui, yaitu penduduk gurun (padang
pasir). Binatang ternak yang mereka pelihara ialah unta dan biri-biri.
Biri-biri ini adalah salah satu dari modal hidup yang terpenting bagi
mereka. Air susu biri-biri itu diminum, dagingnya untuk dimakan, dan
kulit serta bulunya mereka buat pakaian atau kemah.
Orang
Arab yang bertempat tinggal di padang pasir mempunyai watak pemberani.
Berani adalah sifat yang amat menonjol pada mereka, Mereka selamanya
membawa senjata dan sering sendirian di padang pasir. Tak ada yang
melindunginya di waktu itu, kecuali hanyalah keberanian mereka sendiri.
Oleh karena kehidupan di padang pasir serba sulit, maka bangsa Arab
tersebut selalu mengganggu, menyerang dan merampas harta penduduk negeri
(penduduk Jazirah Arab bagian tepi yang sudah mapan ekonominya). Oleh
karena itu, penduduk padang pasir dipandang sebagai orang-orang biadab
yang tak dapatj ditaklukkan oleh penduduk negeri. Mereka dahulu pernah
memegang peranan pentingj dalam melancarkan perniagaan dunia, yaitu
sebelum Terusan Suez digali. Laut Mera pada waktu itu belum dipakai
untuk pelayaran dan karena banyak pulau, maka kai Badui (penduduk gurun
pasir) itulah yang bekerja memperhubungkan perniagaan antara Benua Asia
dan Benua Eropa dengan melalui Jazirah Arab. Jalur-jalur perniagaan
telah mereka atur dengan rapi dan saksama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar