Sabtu, 07 Maret 2020

Sejarah Kota Mekkah

  1. Sejarah Kota Mekkah
Mekkah Al-Mukarromah merupakan kota utama yang ada di negara Arab Saudi, dan ini merupakan salah satu kota tujuan utama bagi para ummat muslimin seantero dunia. Keberadaan Ka’bah telah menjadi icon kota nan suci ini dan juga menjadi patokan arah kiblat bagi ummat agama Islam dalam melaksanakan Sholat. Selain itu Mekkah juga sebagai kota kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW, beliau tumbuh hingga dewasa juga di kota ini.
Berabad abad sebelumnya kota ini sangatlah gersang tidak memiliki tumbuhan sama sekali, dikarenakan cuaca yang sangat panas dan curah hujan yang sangat rendah, sehingga air pun tidak ada di kota ini. Untuk manusia yang pertama kali menghuni kota Mekkah ini para sejarawan berbeda pendapat perihal siapa orang penghuni pertama di kota ini. Ada yang mengatakan ia lah Nabi Ibrahim AS karena beliau pernah berdoa’ :

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)
Beliiau tidak menyebutkan Balad (Negeri) tetapi menyebut Wadi (Lembah), artinya tempat itu sei tidak berpenghuni.
Ada pun ayat lain berbunyi:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali Imran: 96)


وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah: 127)
Untuk ayat pertama menjelaskan bahwasannya rumah yang pertama dibangun untuk manusia adalah rumah yang berada di Bakkah atau Mekkah, padahal Nabi Ibrahim AS bukanlah manusia yang pertama di ciptakan Allah SWT jadi bukan beliau lah yang merintis Kota Mekkah. Dan pada ayat ke dua Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS bukanlah orang yang pertama membangun Ka’bah tetapi mereka hanya meninggikan bangunan tersebut.
Kesimpulan pendapat ke dua yang diatas adalah, bahwasannya Kota Mekkah telah lebih dulu dibangun sebelum zaman Nabi Ibrahim AS, dan bahkan ada yang menyebutkan bahwa kota Mekkah ini mempunyai beberapa fase yang berbeda di setiap zamannya dimulai dari kota ini pernah menjadi hijau dengan penuh tanaman yang banyak menghiasinya hingga mengalami masa kegersangan. Maka dari itu Mekkah disebut Ummul Qura’ ibunya negeri negeri.
Berdasar 2 penyataan diatas bisa kita ambil kesimpulan bahwasannya, dua analisis masing masing memeliki argumentasi yang kuat, bisa jadi yang pertama dan yang kedua benar dan bisa jadi juga kemungkinan salah.
  1. Fiqih Tentang Mekkah
Adabeberapa peraturan yang terkait tentang kota Mekkah yaitu:
  1. Diperbolah kan tidak menggunakan pakaian Ihram, jika tidak berniat untuk melaksanakan ibadah Haji atau Umrah dan mewajibkannya jika berniat Haji dan Umrah dari batas memasuki wilayah tanah Mekkah
  2. Maksiat yang dilakukan di Kota Mekkah dosanya akan dilipat gandakan dari pada yang dilakukan di luar tanah Mekkah
  3. Pahala Shalat di Masjidil Haram sama dengan seratus rib kali shalat di tempat selain Masjidil Haram.
  4. Dibolehkan untuk melaksanakan Shalat (non wajib) dan Tawaf kapan saja walau bertepatan dengan waktu terlarang untuk shalat
  5. Tidak boleh memburu binatang yang hidup di Mekkah, barang siapa yang memburunya maka dia wajib membayar denda gantinya

MENGENAL KOTA MAKKAH AL-MUKARRAMAH

Siapa yang tidak tahu nama “Makkah”. Pastinya umat Islam di seluruh dunia pernah mendengar tentang kota ini. Makkah, kota di jantung jazirah Kerajaan Arab Saudi. Kota tujuan utama kaum muslimin untuk menunaikan salah satu rukun Islam, ibadah haji. Sebuah kota yang saat musim haji tiba, jutaan umat Islam dari berbagai Negara yang disebut sebagai hujjaaj (jama’ah haji) tumpah ruah berkumpul di sana.
Dijuluki dengan al-Mukarramah, karena Makkah merupakan kota yang dimuliakan oleh Allah SWT. Sebab, di kota Makkah ini Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS untuk mendirikan Baitullah (Ka’bah) di Masjidil Haram, yaitu sebuah bangunan utama dimana Ka’bah dibangun di dalamnya. Bangunan Ka’bah inilah yang kemudian dijadikan patokan arah Kiblat untuk ibadah shalat bagi umat Islam di seluruh dunia.
Sejarah dan kejayaan kota Makkah sudah terbangun sejak dahulu, bahkan masyarakat dunia mengakui tentang peradaban yang berlangsung di kota Makkah. Dalam kitab Perjanjian Lama dan karya-karya sastra klasik, bangsa Arab sudah ada sejak zaman dahulu (purba). Sejumlah penelitian arkeologi dan dalam karya sastra Eropa, telah menyebutkan adanya hasil bumi dan pertanian dari bangsa Arab.
William Shakespeare (1564-1616 M), seorang pujangga Inggris, dalam salah satu karyanya menyebutkan: “Segala wewangian Arab takkan mempermanis tangan kerdil ini.”
Hal yang sama juga diungkapkan Milton (1608-1674 M), seorang penyair Inggris. “… di laut lepas angin timur berhembus; Semerbak Saba dari pantai yang hangat; Dari Arab yang penuh rahmat.”
Ini menunjukkan, pada zaman dahulu, bangsa Arab dan Makkah khususnya, telah dikenal luas oleh masyarakat sebagai sebuah bangsa yang terkenal akan kejayaannya.

Kota Tertua Di Dunia
Kota Mekah terletak di kawasan Hijaz, 70 km arah timur kota Jedah, Kerajaan Saudi Arabia, dengan posisi 21°27´ lintang utara dan 39°49` bujur timur. Kota Makkah merupakan Kota Suci umat Islam dan tempat lahirnya Nabi Muhammad SAW.
Makkah memiliki julukan sangat banyak, seperti; Al-Haram, Al-Amin, Al-Balad, Al-Qaryah, Al-Hathimah dan seterusnya. Dalam Alquran bahkan disebutkan dengan berbagai nama; Makkah, Bakkah, Al-Qaryah, Umul Qura (induk desa-desa) dan Al-Baladul Amin (negeri yang aman).
Dalam Al Quran Surat Ali Imran ayat 96 disebutkan; “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”
Ayat tersebut menjelaskan bahwa memang Makkah atau Bakkah telah ada sejak dahulu. Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Jalalain bahwa Baitullah dibina oleh malaikat sebelum Adam diciptakan. Pada sebuah hadis lain disebutkan pula bahwa Ka’bah yang ada di Makkah yang mula-mula muncul di permukaan air ketika langit dan bumi diciptakan sebagai buih yang putih.
Dalam buku Situs-Situs dalam Al Quran yang di tulis oleh Syahruddin El-Fikri, Junaidi Halim dalam bukunya Makkah-Madinah dan Sekitarnya, menyebutkan bahwa Kota Makkah adalah kota tertua di dunia. Bahkan, Makkah sudah ada sejak zaman Nabi Adam Alaihissalam (AS). Konon, Nabi Adam dahulunya diturunkan ke bumi adalah di Makkah, sedangkan Siti Hawa di Jeddah.
Umat Islam percaya, Ka’bah di Masjidil Haram di kota Makkah merupakan bangunan pertama yang didirikan di bumi oleh Nabi Adam, dilanjutkan Nabi Ibrahim dan terakhir, Nabi Muhammad.
Junaidi Halim menyatakan, batas Kota Makkah merupakan tempat berbarisnya para Malaikat, ketika Nabi Adam meminta perlindungan dari godaan Iblis, setelah diturunkan dari Surga. Batas-batas itu adalah sekitar 7 kilometer (km) Masjid al-Haram dari utara, 13 km ke arah selatan, 25 km dari arah barat dan 25 km dari arah timur.
Dalam buku Atlas Sejarah Nabi dan Rasul, ditulis oleh Sami bin Abdullah al-Maghluts, Nabi Ibrahim diperkirakan hidup pada 1997-1822 Sebelum Masehi (SM). Dan, bila merujuk pada masa hidup Nabi Ibrahim itu, hingga kini Kota Makkah telah berusia sekitar 40 abad.

Ummul Qura
Penamaan Makkah dengan nama Ummul Qura didasarkan pada firman Allah Swt. dalam Al Quran Surat Al An’am, 6: 92 yang artinya;
“Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quran) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya.”
Imam Nawawi Al Jawi, sebagaimana dikutip Abd. Adzim Irsad, berpendapat bahwa Mekah dinamakan Ummul Qura karena menjadi tujuan umat manusia untuk melaksanakan ibadah haji. Umat manusia yang kumpul di tempat mulia ini diibaratkan seperti anak yang berkumpul bersama ibunya. Berkumpulnya umat manusia dalam ibadah haji dan melaksanakan aktivitas dagang menyebabkan Tanah Haram ini disebut Ummul Qura.
Dalam buku Situs-Situs dalam Al Quran yang di tulis oleh Syahruddin El-Fikri disebutkan, DR Ilyas Abdul Ghani dalam bukunya Sejarah Kota Makkah memaparkan ada empat pendapat mengapa Makkah dinamakan Umul Qurra.
Pertama, sebab bumi dibentangkan dari bawahnya, dengan demikian dia menjadi pusat dunia. Artinya tanah yang berada di muka bumi ini dibagi di sekitar pusat dari tanah daratan. Juga menjadi tempat yang benar untuk menghadap ketika shalat di kota manapun seseorang berada. Ia adalah busur terpendek yang menghubungkan antara kota itu dengan kota Makkah. Dalam penelitian ilmiah, secara falaki ditemukan bahwa Ka’bah adalah pusat bumi dan ia dibangun di jantung kota Makkah.
Kedua, sebab Makkah adalah kota tertua dan terlama. Ketiga, Makkah merupakan kiblat manusia yang menghadap kearah Ka’bah. Keempat, Makkah merupakan kota yang sangat agung kedudukanya, dibandingkan kota-kota lain di Dunia.

Mekkah dan Nasab Rasulullah SAW
Mengenai nasab Rasulullah SAW. sebagaimana diterangkan dalam hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan At-Tirmidzi. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah memilih Ismail dari anak Ibrahim dan memilih Kinanah dari anak Ismail dan memilih Quraisy dari Bani Kinanah dan memilih Bani Hasyim dari Quraisy dan memilihku dari Bani Hasyim.”
Tak banyak sejarah yang mengungkapkan periodisasi Kota Makkah, setelah Nabi Ismail AS. Selang 25 abad kemudian atau sekitar abad ke-5 Masehi (420 M), keberadaan Kota Makkah mulai terkuak, yaitu pada masa Qushay bin Kilab, kakek kelima Nabi Muhammad SAW.
Qushay mempunyai beberapa anak, salah satunya Abdi Manaf bin Qushay. Abdi Manaf mempunyai beberapa anak, di antaranya Hasyim (Bani Hasyim). Dari bani Hasyim inilah yang menurunkan Abdul Muthalib dan menurunkan Abdullah, ayah Nabi Muhammad SAW.
Pada masa itu, Qushay dikenal sebagai salah satu pemimpin suku Quraisy. Suku Quraisy dinisbatkan pada keturunan bani Kinanah, yakni Quraisy bin Fihr bin Malik bin Nadhor bin Kinanah. Qushay mendapat tugas sebagai pemegang kunci sekaligus pemelihara Ka’bah. Dan dari Qushay ini kemudian pemeliharaan Ka’bah dilanjutkan oleh keturunannya, hingga Abdul Muthalib.
Dan pada abad ke-6 (571) Masehi, Kota Makkah makin terkenal ke seantero dunia. Karena pada saat itulah, penghulu para Nabi, yakni Muhammad SAW dilahirkan. (A/P003/R12)
Oleh: Arif Asy’ari, Wartawan Mi’raj Islamic News Agency

Ka'bah Juga Pernah Mengalami Kebanjiran


Kabah Juga Pernah Mengalami Kebanjiran
 
Beginilah kondisi Baitullah Ka'bah saat dilanda banjir besar pada tahun 1941 lalu. Foto/dok agorsiloku.wordpress.com
Banjir parah yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya mengingatkan kita tentang kuasa Allah Ta'ala dan betapa lemahnya kita sebagai manusia. Dalam Al-Qur'an, Allah mengabarkan bahwa tidak ada musibah yang dialami makhluk-Nya kecuali atas izin-Nya.

مَاۤ اَصَابَ مِنۡ مُّصِيۡبَةٍ اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰهِ‌ؕ وَمَنۡ يُّؤۡمِنۡۢ بِاللّٰهِ يَهۡدِ قَلۡبَهٗ‌ؕ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيۡمٌ

"Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS At-Taghobun ayat 11)

Tak hanya negeri kita (Indonesia) yang dilanda musibah banjir. Rumah Allah (Baitullah) Ka'bah di Makkah yang menjadi pusat peribadatan juga pernah mengalami banjir. Bahkan Al-Bait Al-Haram atau rumah yang suci di Masjidil Haram itu beberapa kali terendam banjir.



Ka'bah, tempat suci yang dibangun pertama kali di dunia sejak zaman Nabi Adam 'alaihissalam (AS). Di tempat ini, umat Islam melakukan ibadah tawaf, i'tikaf, rukuk dan sujud dan bermunajat kepada Allah.

Sebagai tempat suci yang agung, Ka'bah tentu dijaga oleh Allah Ta'ala dari segala hal yang membahayakan. Seperti saat penyerangan Ka'bah oleh Abrahah dan tentaranya, Allah mengirim pasukan burung Abaabil.

Dalam catatan labbaik.id yang dipublish Oktober 2017 lalu, Ka'bah yang berada di areal Masjidil Haram pernah mengalami banjir besar pada zaman Nabi Nuh AS. Banjir juga terjadi saat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) berusia 35 tahun dan belum diangkat menjadi Rasul. Saat itu kondisi Ka'bah sangat mengkhawatirkan, maka tokoh Quraisy kala itu sepakat untuk memperbaiki Ka'bah.

Selain itu, Ka'bah pernah terendam banjir pada zaman Khalifah Umar ibnul Khattab. Karena banjir saat itu, dinding Ka'bah sebagian rusak parah, karena pada zaman itu Ka'bah dibangun hanya menggunakan batu yang direkatkan dengan tanah dan atau lumpur, bukan menggunakan semen seperti saat ini.

Selain tiga peristiwa banjir yang melanda Ka'bah itu, banjir serupa terjadi pada tahun 1039. Kemudian, Ka'bah pernah dilanda banjir pada tahun 1941 yang merupakan banjir cukup besar. Kala itu, tinggi air yang menggenangi kawasan masjidil haram mencapai 152 cm atau sekitar leher orang dewasa.

Banjir besar ini disebabkan Kota Makkah yang dilanda hujan lebat selama sepekan. Ditambah lagi letak geografis Kota Makkah yang diapit bukit-bukit. Sehingga Kota Makkah termasuk dalam dataran rendah yang letaknya di dalam cekungan. Struktur tanah Kota Makkah juga tidak mudah menyerap air karena sangat keras, kuat dan kering.

Setelah tahun 1941, pada tahun 2009 dan 2012 Ka'bah kembali digenangi air hujan, namun tidak separah yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Air tidak sampai menyentuh badan Ka'bah, hanya menggenangi jalan-jalan.

Dengan bencana ini kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran betapa kekuasaan Allah begitu Maha luas. Rumah yang suci pun bisa terkena bencana banjir karena berbagai alasan. Allah memberi kita pelajaran bahwa tidak ada yang abadi, kecuali Dzat-Nya. Namun dengan adanya bencana banjir, Allah memberikan solusi dan pelajaran.

Allah Ta'ala tidak pernah salah. Dia Maha mengetahui dan Maha pengasih di antara semua pengasih. Peristiwa banjir yang terjadi baik di Indonesia maupun di rumah suci-Nya Ka'bah adalah kehendak-Nya.

Sebagai makhluk, kita hanya diperintahkan tunduk dan ridha kepada takdir-Nya. Sebab, musibah merupakan sunnatullah yang tidak ada satupun makhluk dapat lari darinya. Namun, ketahuilah dibalik musibah ini, sebenarnya Allah menyimpan nikmat besar bagi mereka yang bersabar.

Dalam sebuah Hadis Qudsi, Allah Ta'ala berfirman: "Barangsiapa yang Kuambil kedua anggota tubuh kesayangannya (yakni kedua matanya), lalu ia bersabar, niscaya Aku masukkan dia ke dalam surga sebagai ganti keduanya. Barangsiapa yang Aku cabut nyawa buah hati-Nya dari kalangan penduduk dunia, kemudian ia berharap pahala (dari-Ku), niscaya Aku berikan surga kepadanya sebagai ganti-Nya."

Bagi mereka yang bersabar dengan musibah, Allah tengah mempersiapkan surga baginya. Sebagaiman firman-Nya:

سَلٰمٌ عَلَيۡكُمۡ بِمَا صَبَرۡتُمۡ‌ فَنِعۡمَ عُقۡبَى الدَّارِؕ

(sambil mengucapkan), "Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu." Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu (surga). (QS Ar-Ra'd: 24)Wallahu A'lam Bisshowab

Sejarah Pemegang Kekuasaan di Tanah Suci Makkah


Sejarah Pemegang Kekuasaan di Tanah Suci Makkah
 
Pada tahun 2000 SM, Nabi Ibrahim 'alaihissalam (AS) dan putranya, Ismail AS meninggikan pondasi Baitullah, yang kini dikenal dengan Ka'bah, kiblat bagi umat Islam di dunia. Foto Ilustrasi/Ist
Secara geografis, para ahli membagi wilayah Arab ke dalam lima bagian yaitu Hijaz, Tihamah, Najd, Arud, dan Yaman. Adapun Hijaz terdiri dari tiga kota yaitu Makkah, Madinah dan Thaif. Kita akan membahas tiga kota di Hijaz dan sejarah kekuasaan di Makkah.

Makkah Al-Mukarramah dikenal sebagai Ummul Qura (ibukota) sebagai pusat pemerintahan Hijaz. Pada tahun 2500 sebelum masehi (SM), Makkah adalah tempat pemberhentian kafilah dagang. Sekitar tahun 2000 SM, Nabi Ibrahim 'alaihissalam (AS) dan putranya, Ismail AS, bersama-sama meninggikan pondasi Baitullah, yang dikenal dengan Ka'bah. Setelah itu, Ismail dan keturunannya menetap di Mekkah. Kini, Makkah (Masjidil Haram) menjadi kiblat umat Islam di dunia setelah doa Nabi Muhammad SAW dikabulkan Allah Ta'ala.

Sedangkan Madinah Al-Munawwarah dulunya dikenal sebagai Yatsrib. Sejak zaman Rasulullah SAW merupakan tempat berdirinya kekuasaan dan diberlakukannya syari'at Islam. Kata "Madinah" berarti kota. Ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, kota ini menjadi pusat pemerintahan Islam hingga beliau wafat dan dimakamkan di areal Masjid Nabawi. Selanjutnya Madinah menjadi pusat kekhalifahan penerus Nabi. Terdapat tiga khalifah yang memerintah dari kota ini yakni Sayyidina Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan RA. Madinah menjadi kota suci kedua bagi umat Islam.



Adapun Kota Thaif dikenal sebagai daerah yang subur. Golongan orang kaya biasanya menghabiskan waktu di tempat ini saat musim panas. Kota ini berada pada ketinggian 1.700 meter. Selain dikenal dengan keindahan dan kesejukan alamnya, Thaif menyimpan sejarah tentang kesabaran Rasulullah SAW ketika diusir warga Thaif saat beliau menyebarkan dakwah Islam. Kini, kota ini menjadi pusat area agrikultur yang terkenal dengan anggur dan madunya.

Sejarah Pemegang Kekuasaan di Makkah
 
Sejarah Pemegang Kekuasaan di Tanah Suci Makkah

Pada tahun 2000 SM, Hijaz dikuasai oleh keturunan Nabi Ismail, lalu kemudian Kerajaan Qahtan datang menguasai Negeri Hijaz selama dua abad. Ketika itu keturunan Ismail terpecah dan tersebar di sekitar jazirah Arab. Qushayyi (keturunan Ismail) menikah dengan Hubayya (keturunan Khuza'ah).

Qushayyi mewarisi kekuasaan di Hijaz, setelah mertuanya, penguasa Hijaz saat itu meninggal dunia. Pada masa kekuasaan Qushayyi, ia mengumpulkan bangsa keturunan Ismail yang tersebar di jazirah Arab. Sebagian ulama berpendapat bahwa Quraisy berasal dari kata "quraisy" yang artinya apa-apa yang dikumpulkan dari sana sini.

Ada yang berpendapat asal katanya dari "garrasya" yang artinya berpencaharian berdagang. Ada juga yang berpendapat berasal dari kata "taqarrasya" yang artinya menyelidiki kekurangan orang lain.

Dalam kitab-kitab tarikh terkenal, disimpulkan bahwa setelah keturunan Ismail dan Adnan bercerai-berai, di antara keturunan mereka ada yang bernama Fihr, yang pada masanya mempunyai cita-cita agar Ka'bah kembali dikuasai golongan keturunan Ismail. Fihr dan keturunannya berjuang memukul mundur tentara yang berusaha menguasai Ka'bah.

Fihr adalah seorang pedagang yang suka membantu orang-orang yang kekurangan dan miskin. Seiring waktu Quraisy menjadi golongan yang mempunyai kelebihan dari bangsa Arab yang lain. Terlebih saat Qushayyi berhasil mengembalikan kekuasaan Hijaz ke tangan golongannya. Sejak saat itulah bangsa Quraisy menjadi terkenal.

Seiring waktu, tahun 571 Masehi lahirlah seorang Nabi pilihan Allah yaitu Al-Musthofa Muhammad SAW yang juga keturunan dari suku Quraisy. Beliau mendakwahkan agama Islam tahun 611 M dan ketika itu muncul perlawanan dari kaum kafir Quraisy hingga terjadilah perang yang tak terhindarkan. Berkat perjuangan Beliau SAW dan para sahabat, akhirnya Makkah berhasil ditaklukkan pada tahun 630 M. Semua penduduknya memeluk Islam dan bangsa Arab pun mulai bersatu dan semakin kuat.

Kini, tiga kota yaitu Makkah, Madinah dan Thaif dan beberapa kota lainnya di jazirah Arab berada di bawah kekuasaan Kerajaan Arab Saudi yang dikuasai dinasti As-Saud. Sebelum menjadi kerajaan, Saudi Arabia mengalami tiga tahapan diawali dari tahapan Negara Saudi Pertama, kemudian Negara Saudi Kedua, dan sekarang menjadi negara Kerajaan Arab Saudi.

Negara Saudi Pertama didirikan oleh Muhammad bin Saud tahun 1744. Kemudian Abdul Aziz Al-Saud menjadi Raja Arab Saudi pertama yang berkuasa 1932. Sekarang di era modern, Kerajaan Saudi Arabia dipegang oleh Raja Salman bin Abdul-Aziz yang berkuasa sejak 2015.

Kisah Nabi Muhammad S.A.W

P ada waktu umat manusia dalam kegelapan dan suasana jahiliyyah, lahirlah seorang bayi pada 12 Rabiul Awal tahun Gajah di Makkah...